Manfaat rambut gajah.

Kita tahu bahwa gajah memiliki rambut, meskipun tidak banyak.  Studi terbaru mengungkapkan mengenai rambut gajah ini yang memiliki fungsi selain mempertahankan  panas tubuh, dan pada studi tersebut mengungkap fungsi lain yakni membantu mendinginkan tubuh. Pendinginan lebih efektif dengan adanya rambut tipis daripada tanpa rambut sama sekali.

Studi ini dilaksanakan oleh Conor L. Myhrvold dari Departemen Teknik Sipil dan Perencanaan di Princeton University dan rekannya, mempelajari mengapa jagah memiliki rambut tipis di kulitnya. Publikasi dari studi tersebut terdapat di jurnal PLoS ONE, yang merupakan open akses jurnal.

sumber berita : kompas

Share Button

Primata Indonesia masuk dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates: 2012–2014”

Primata adalah mamalia yang menjadi anggota ordo biologi Primates.  Dalam ordo primata  ini antara lain lemur, tarsius, monyet, dan kera.  Istilah primata berasal dari kata bahasa Latin primates yang berarti “yang pertama, terbaik, mulia”.  Ilmu yang mempelajari primata dinamakan primatologi.

Beberapa organisasi konservasi primata Internasional menerbitkan “The World’s 25 Most Endangered Primates: 2012–2014”.  Organisasi tersebut antara lain IUCN/SSC Primate Specialist Group (PSG), International Primatological Society (IPS), Conservation International (CI), Bristol Conservation and Science Foundation (BCSF).

Dalam buku tersebut terdapat 3 primata asal Indonesia yang terancam punah yakni Tarsius pumilus (Pygmy tarsier) Sulawesi; Nycticebus javanicus (Javan slow loris) Jawa; Nasalis concolor (Pig-tailed langur) Kepulauan Mentawai.  Untuk informasi lebih lengkap silahkan download buku tersebut.

Silahkan download buku tersebut di sini

Share Button

Tahun ini Kementerian Kehutanan, naik peringkat dalam 10 Badan Publik terbaik

Pengumuman peringkat 10 Badan Publik Pusat Terbaik dan 10 Badan Publik tingkat Propinsi disampaikan oleh Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP) Abdul Rahman Ma’mun di Istana Wakil Presiden RI Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat(28/09) dalam rangka hari Hak untuk Tahu Internasional (International Right to Know Day) yang diperingati setiap 28 September sebagai upaya mempromosikan hak-hak masyarakat untuk mengetahui informasi dari badan-badan publik. Pemeringkatan 10 Badan Publik Pusat Terbaik yang dilakukan oleh Komisi Informasi Pusat (KIP).

Ke sepuluh peringkat Badan Publik terbaik tersebut adalah :

  • Kementerian Perindustrian, 
  • Kementerian Sekretaris Negara, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
  • Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN)
  • Badan Pemeriksa Keuangan
  • Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Kementerian Koordiantor Perekonomian
  • Kementerian Kehutanan
  • Mahkamah Konstitusi RI
  • Kementerian Komunikasi dan Informasi
  • Kementerian Kesehatan
  • Kementerian Keuangan dan Pekerjaan Umum

Informasi selengkapnya dapat dibaca di sini

Share Button

Majalah Swara Samboja Kedua telah terbit!

Setelah mengeluarkan edisi perdana majalah suara konservasi, kini Balitek KSDA menyusulkan majalah kedua yang mengupas tentang orang utan, dan herbarium wanariset samboja.  Profil Kepala Badan Litbang Kehutanan juga dapat dibaca pada edisi ini.  Ebook majalah swara samboja dapat langsung di download di sini

Share Button

Mangrove Langka Ditemukan di Tanjung Batu, Berau

BALITEK KSDA (Samboja, 5 September 2012)_Dalam rangkaian survei untuk penelitian, peneliti Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) menemukan jenis mangrove yang sudah sangat langka, yakni Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. Jenis ini tadinya diperkirakan sudah tidak ada di Indonesia dan sudah lama masuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional untuk spesies – spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah.

Camptostemon philippinense (Vidal) Becc. merupakan salah satu jenis mangrove dari suku Bombacaceae yang tidak terlalu dikenal. Sejak tahun 2004 IUCN (The International Union for Conservation of Nature and Resources) telah memasukkan jenis ini ke dalam red list (daftar merah) dengan kategori endangered (terancam punah) karena populasinya yang terus menurun. Diperkirakan populasi jenis ini di seluruh dunia hanya tinggal 2.500 pohon dewasa dengan kecenderungan terus menurun (IUCN, 2011).

Penemuan jenis sangat langka ini bermula dari kegiatan survei penelitian Kajian Potensi Pengembangan Ekowisata Mangrove di Berau, Kalimantan Timur yang dilakukan peneliti Mukhlisi, SSi tahun 2011-2012. Data yang diambil diantaranya adalah kelimpahan flora dan faunanya. Ketika menelusuri transek di sepanjang hutan mangrove di Tanjung Batu, ditemukan jenis mangrove yang sedikit berbeda dengan jenis mangrove pada umumnya. Saat dilakukan analisis spesimen oleh Dr. Kade Sidiyasa dan tim di Herbarium Wanariset Balitek KSDA, dipastikan bahwa jenisnya adalah jenis Camptostemon philippinense (Vidal) Becc.

Jika dilihat sepintas, jenis ini memang agak mirip dengan Camptostemon schultzi , namun jika diamati akan terlihat cirinya yang khas. Camptostemon philippinense tumbuhan berkayu lunak, habitus berupa semak atau pohon yang selalu hijau, terkadang memiliki ketinggian hingga mencapai 30 m. Kulit kayu berwarna abu-abu dan memiliki celah atau retakan longitudinal serta pangkal batang yang bergalur. Akar tersebar di sepanjang permukaan tanah dan memiliki akar nafas yang menonjol.

Penemuan ini juga sudah diinformasikan kepada Dinas terkait pada acara Presentasi Laporan Hasil Penelitian dan Uji Perencanaan Balai pada Senin, 6 Agustus 2012 lalu di Ruang Pertemuan Dinas Kehutanan Kabupaten Berau. Pertemuan tersebut dihadiri pejabat struktural beserta jajarannya serta karyawan fungsional lainnya. Dalam kesempatan itu Balitek KSDA memberikan rekomendasi terkait hasil penelitiannya, yaitu: (1) Perlu segera disusun konsep dan bentuk pengelolaan ekowisata mangrove dengan melibatkan stakeholder terkait dan mempercepat progress pembangunan infrastruktur di daerah mangrove Berau; (2) Inventarisasi lebih lanjut potensi keragaman hayati yang dimiliki; (3) Perlu dilakukan upaya partisipatif masyarakat dalam hal pengelolaan ekosistem mangrove yang berbasis kepentingan konservasi dan ekonomi. (ns)

Share Button

Organisasi Sukses, Organisasi Pembelajar

BPTKSDA (Samboja, 3 Agustus 2012)_Kesuksesan organisasi sangat tergantung pada kemampuan organisasi tersebut untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar.  “Organisasi yang baik adalah organisasi  pembelajar”, kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan di Samboja, Jumat (3/8).

Organisasi belajar atau organisasi pembelajaran (learning organization) adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Menurut Sandra Kerka (1995) yang paling konseptual dari learning organizationadalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting’, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar. (http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_belajar)

Dalam acara pembinaan di BPTKSDA Samboja, Kepala Badan berpesan untuk selalu mengembangkan emosi positif, jauhi sifat curiga, iri hati dan dengki. “Pertahankan kekompakan, saling kontrol, kembangkan koordinasi dalam bentuk silaturahmi ,” katanya.

Kepala Badan juga menyampaikan beberapa isu-isu strategis baik yang menyangkut isu nasional, global maupun pesan bagi internal organisasi litbang. Permasalahan tenurial, penurunan produktivitas hutan serta keterlibatan sektor kehutanan dalam hal penyediaan pangan, energi dan air, adalah isu nasional yang perlu mendapat perhatian utama.

Dalam tataran global Kepala Badan juga menekankan bahwa dampak dari perubahan iklim adalah nyata oleh karena itu peran kehutanan dalam isu perubahan iklim adalah langkah yang benar. Namun demikian perlu juga digarisbawahi bahwa keterlibatan kehutanan tidaklah dengan orientasi utama perdagangan karbon namun dalam kerangka sustainable forest management (SFM).  Isu global yang lain yang juga akan menjadi arus utama adalah berkaitan dengan sertifikasi produk, kecenderungan privatisasi termasuk didalamnya isu reformasi agraria.

Kegiatan pembinaan ini diawali dengan peninjauan KHDTK Samboja, dengan menelusuri  jalan setapak di bawah hutan tropik basah yang masih alami.  KHDTK Samboja adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus untuk penelitian yang ditunjuk berdasarkan SK Menhut No. SK.201/MENHUT-II/2004. Hutan penelitian seluas 3504 ha terletak di TWA Bukit Soeharto di Kabupaten Kutaim Kertanegara dan Kabupaten Pasir Provinsi Kaltim. “Pengelolaan KHDTK Samboja agar mengantisipasi dinamika sosial di sekitarnya”, kata Kepala Badan.

Acara pembinaan di BPTKSDA Samboja tersebut juga di hadiri oleh Kepala Puskonser, Ir. Adi Susmianto, M.Sc., Kepala Balai Besar Penelitian Dipterocarpa, Dr. Rufiie, Kepala Bagian EDP, Ir. C. Nugroho S. Priyono, M.Sc. Acara yang dimulai pukul 16.00 WITA  juga diisi dengan dialog interaktif dengan para karyawan dan diakhiri dengan melaksanakan shalat tarawih bersama. (NS)***

Share Button